Rabu, 25 November 2015

Bahagia bersamamu

Kita lihat makna bahagia menurut Al-Qur'an " Qad Aflaha man tajakka, wa dzakarasma rabbihi fashalla", pasti bahagia orang yang membersihkan (diri, hati, harta), yang selalu mengingat Tuhannya, lalu dia shalat. Dalam kitab Mukhtaaral Hadist Rasulullah SAW berkata " Kebahagiaan yg paling bahagia ialah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah. {HR. Ad-Dailami dan Al Qodho’i}

Dalam hadistnya yang lain, Rasulullah juga menunjukan ciri bahagianya seseorang. "Empat perkara yang merupakan kebahagian dari seseorang, yaitu: mempunyai isteri yang shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri (HR. Dailami dari Ali ra)

Diriwayatkan dari Ali ra. : kami mengikuti upacara pemakaman di Baqi Al Gharqad. Nabi Muhammad Saw mendatangi kami dan duduk, kami pun duduk mengelilinginya. Nabi Muhammad Saw menggenggam tongkat kecil di tangannya, membungkukkan kepalanya dan mulai menggoresi tanah dengan tongkat itu. Kemudian Nabi Muhammad Saw bersabda, “tiada seorang pun diantara kalian, maupun setiap orang yang diciptakan, kecuali memiliki sebuah tempat, di surga ataukah di neraka, yang telah ditetapkan untuknya. Dan telah diputuskan untuknya apakah ia akan berada di antara mereka yang berbahagia (sa’idah) atau berada di antara mereka yang celaka (syaqiy-yah)”. Seorang lelaki berkata, “ya Rasulullah Saw, dapatkah kami bergantung kepada apa yang telah dituliskan untuk kami dan meninggalkan perbuatan-perbuatan (amal), begitu pula orang-orang yang berbahagia di antara kami akan mengerjakan perbuatan-perbuatan orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka di antara kami akan mengerjakan perbuatan-perbuatan orang yang celaka diantara kami?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “perbuatan-perbuatan baik akan melapangkan jalan bagi kebahagiaan dan perbuatan-perbutan buruk akan melapangkan jalan bagi ketidakberuntungan.” Kemudian Nabi Muhammad Saw membacakan ayat-ayat suci berikut : maka siapa yang (suka) memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik, kami sungguh memudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan. (QS Al Lail [92] 5-7).

Jika melihat penjelasan-penjelasan tersbut, maka kita sebenarnya akan mampu melihat manusia itu kedalam 4 golongan :

Pertama, Manusia yang termasuk "Sa'iidun fiddunyaa wa sa'iidun fil akhirat" orang yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat itulah karakter orang yang menemukan 'hasanah fiddunya, hasanah fil akhirat". jabatan tinggi, harta berlimpah, keluarga sehat, dia taat beribadah kepada Allah dan banyak memberi kemanfaatan terhadap sesama.

Kedua, Manusia yang termasuk "Sa'iidun fiddunya, saqiyyun fi aakhirat" orang yang "bahagia" hidup di dunianya tapi tidak bahagia (celaka) kehidupan akhiratnya. Sengaja saya kasih tanda petik dalam kalimat bahagia, karena kebahagiaaan yang dimaksud disana sebatas pengertian lahiriah manusia, dia bahagia dalam segala keberlimpahan materi, tapi dia jauh dari Tuhannya, tak pernah mau berbagi dan memberi manfaat pada sesama manusia.

Ketiga, Manusia yang termasuk "Saqiyyun fiddunya, Wa Sa'iidun fil aakhirat" orang yang tidak bahagia/sengsara hidup di dunianya, tapi dia bahagia hidup di akhiratnya. Boleh jadi dia hidup dalam serba kekurangan, tidak bahagia dalam pandangan manusia kebanyakan, miskin papa, tapi dia rajin beribadah kepada Allah, memiliki perangai baik dalam menjalani kehidupan, menikmati kemiskinannya dan baik pergaulannya dengan sesama manusia, banyak memberi manfaat dengan apapun yang dimilikinya.

Keempat, manusia yang tergolong " saqiyyun Fiddunya wa Saqiyyun fil akhirat" orang yang tak bahagia di dunia dan tak bahagia juga hidupnya di akherat kelak. Inilah paling sengsara dan celakanya manusia. Dia hidup miskin, serba kurang, sombong, malas beribadah, sama orang musuhan mulu, jika meninggal, dalam kehidupan akhirat kelak pasti akan lebih celaka. "Aku benci orang kaya yang sombong, tapi aku lebih benci orang miskin yang sombong" begitu kata Rasulullah SAW.

0 komentar:

Poskan Komentar